Sulam Usus Khas Lampung

Sulam usus merupakan kerajinan khas Lampung yang sangat terkenal. Disebut sulam usus karena bentuk dari sulamannya yang seperti usus. Bahan dasar sulam usus ini adalah kain satin yang mempunyai karakteristik mengkilap, mewah dan elegan. Sifat bahan yang jatuh dan halus memudahkan untuk membuat berbagai macam pola seperti lurus, melingkar, pita, ulir dll. Awalnya sulaman ini diketahui sebagai penutup dada (bebe) dalam pakaian pengantin tradisional wanita adat Lampung.

Namun sekarang penggunaannya sudah meluas dari kebaya, taplak meja, sarung bantal dan macam-macam aksesoris lainnya.

Image

Potensi pasar kain sulam usus ini sangatlah besar, mengingat bentuknya yang khas serta memiliki bandrol harga yang lumayan tinggi. Namun kekurangannya adalah waktu yang lama dalam proses produksinya dan jumlah pengrajin yang masih sedikit.

Saat ini sulam usus sudah mendunia, berkat tangan dingin Aan Ibrahim, seorang designer asal Lampung yang berhasil menyulap sulam usus ini menjadi rancangan berkelas dunia.

Iklan

Is that true??

Pada dasarnya kemandirian merupakan suatu refleksi dimana individu ataupun masyarakat mampu mengenali dan mengatasi masalah sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Dengan kemandirian tersebut, maka Bangsa ini bisa lebih kreatif dan mampu bersaing dengan Bangsa-bangsa lain di dunia.

Tidak dapat dipungkiri, bahwa masih banyak aspek vital di Indonesia yang masih membutuhkan campur tangan pihak ekspatriat. Padahal sudah diatur dalam pasal 33 UUD 1945 ayat 2 yang berbunyi: “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara”, atau ayat 3: “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Maka akan berbahaya jika investasi asing menyentuh bagian vital negara yang bersifat strategis dan berkaitan dengan hajat hidup orang banyak seperti telekomunikasi, air minum, listrik dan tambang.

Kita bisa lihat pada beberapa BUMN di Indonesia. Saat ini pemegang saham mayoritas Indosat adalah Qtel(Qatar Telecom) yang menguasai 49,1 persen, sedangkan Pemerintah Indonesia hanya memiliki 14,9 persen. Selain itu, kreatifitas dalam mengelola BUMN juga masih kurang, contohnya Pertamina yang mencari profit sebesar-besarnya dengan monopoli dan pengelolaannya masih diserahkan pada pihak asing. Bahkan lucunya, Pertamina malah melakukan bisnis di luar bidang perminyakan. Belum lagi PT. Freeport yang mengeruk kekayaan alam di Papua berupa emas dan kita sudah puas dengan hanya menerima royaltinya saja.

Jika kita melihat dari sudut pandang positif, investasi asing dapat membantu mengatasi pengangguran di Indonesia. Namun akan semakin banyak anak muda yang terlena dan puas dengan kehidupan menjadi karyawan. Buruknya lagi jika Investasi asing itu tidak membawa negri ini ke alam kemakmuran. Upah buruh ditekan serendah mungkin dan para pemegang kebijakan berlomba-lomba membuat policy yang hanya menguntungkan pemodal asing dan mereka sendiri serta mengorbankan hajat hidup orang banyak. Gagasan Mandiri yaitu berdiri di atas kaki sendiri merupakan solusi cermat untuk menghilangkan label ‘menjadi budak di negeri sendiri’.

Negara kita adalah negara agraris, tanah pertanian di Indonesia sangat luas dan ada peluang lapangan kerja yang sangat bagus. Namun, pemerintah kita masih kurang serius mengurusi pertanian, terbukti dengan masih belum adanya kebijakan yang mengatur antara modal dan profit dalam pertanian. Terlebih lagi, sekarang Bangsa kita justru mengimpor bahan pokok pertanian seperti padi, kedelai dll dari luar negeri. Selain itu, negara kita punya banyak tenaga ahli, badan riset teknologi, tp tidak dimanfaatkan dengan maksimal. Ironisnya lagi banyak tenaga ahli kita yang lari ke luar Negeri karena eksistensi mereka di Negeri sendiri kurang dihargai, tidak sedikit orang-orang pintar Indonesia yang bersekolah di Luar Negeri namun tidak kembali ke Indonesia untuk membengun Bangsanya dan para pemimpin Negeri ini pun malah asyik kolusi dengan orang asing.

Tidak salah memang jika kita harus berkoar-koar mengedepankan kemandirian. Karena dengan inilah Bangsa kita bisa keluar dari ‘penjajahan’ yang membelenggu mental para generasi penerus. Kalau negara kita mau maju maka mental rakyatnya dulu yang harus diubah dari mental yang ingin bekerja menjadi seorang yang punya mental untuk berani berwira usaha atau mandiri. Kita harus mulai berubah dari diri kita sendiri, memperbaiki diri kita sendiri. Disinilah pentingnya “national caracter building” yang digagas Presiden Soekarno dulu agar bangsa Indonesia tetap “survive” menghadapi perubahan zaman.

*dari berbagai sumber

entahlah…

Gw pernah mendaftar sebagai salah satu CPNS di salah satu lembaga peradilan di Indonesia. Coz gw nyiapin semua berkas pas malem hari sebelum keberangkatan gw ke Jakarta, jadinya berkas siap tanpa konfirmasi apapun. Dan dengan Pedenya gw kirim berkas lamaran itu ke Jakarta via pos.
Pas gw dah balik dari Jakarta, sampailah gw pada pemikiran bahwa sudah saatnya gw merasa perlu untuk mengecek kelulusan untuk urusan administrasi ini, maka mampirlah gw ke warnet yang letaknya untung aja bersebelahan sama kosan gw. Jadi gak perlu korban banyak energi buat menggapai warnet tersebut (wew lebay..). Setelah cukup puas ngeklik sana-sini, sampailah gw pada pertanyaan “mana pengumumannya y?? koq ga ada siy”,maksud hati pengen nanya ke OP yang jaga, tapi gw tau dia pasti ga bisa jawab. Jadinya gw cuma bisa nanya dalem hati dan berharap suara hati bisa menjawab (cailah..). Berhubung billing jalan terus ‘en sasaran gw makin gak jelas(gak tau mau ngenet apaan.red), akhirnya gw memutuskan untuk ngamuk sambil teriak mencak-mencak untuk memperlihatkan betapa gilanya gw hehe ya enggak lah.

Keluar dari warnet saat itu juga dan pindah ke warung nasi di depannya akhirnya gw lakonin demi menyambung hidup. Sesendok demi sesendok, cacing-cacing dalem perut gw manjain biar mereka gemuk-gemuk “cacing, bantuin proses diet gw ya, lw kan dah gw bikin sejahtara”, pemikiran tentang simbiosis mutualisme yang sadis ini berkelibat seketika di dalam sistem otak gak waras gw.
Setelah itu, gw kembali ke kosan dengan penasaran, rasa2nya kalo saat itu gw mati, gw bakal jadi hantu penasaran yang gentayangan sambil bertanya-tanya “mana pengumuman CPNSnya??…. manaaaa pengumuman CPNSnya??? hihihihihiii….. mana pengumuman CPNSnya??” dan bisa jadi julukan gw adalah HANTUCPNSGAKJADI.
Tapi untungnya gw masih diberi kesempatan bernafas sama Tuhan buat melakukan proses penyelidikan ini. Dengan semangat, gw buka laptop ‘en kembali membaca file pdf tentang pengumuman CPNS tersebut. Dengan keadaan sangat sadar dan tanpa paksaan dari pihak manapun (lhoh, kedengeran keq surat pernyataan), dan ternyata eh ternyata, file itu diperuntukkan kepada pengadilan2 tinggi di tiap kota. So, kesimpulannya file itu bukan buat CPNS dan gw sempet pengen kembali ke beberapa hari sebelum kebodohan ini terjadi. hmmm, apa mau dikata nasi sudah menjadi tai(huekkk..) jadinya gw memutuskan buat menelusuri pengadilan tinggi di bandung dengan mengajak temen senasib seperjuangan. Ya, itung2 ada temenlah kalo kesasar he.

Sebelum gw berjalan tak tentu arah, gw memutuskan untuk bertanya dimanakah lokasi pengadilan di kota bandung ini. Jawaban dari orang yang gw tanya mengatakan di jalan jakarta. Dengan yakin gw meluncur ke sana. Sampai disana yang ada cuma kantor kejaksaan dan jelas sekali gak ada tulisan pengadilan di kantor itu, tapi karna dah kepalang nyampe, jadi gw langsung nyamperin bapak2 di meja resepsionis “Pak, mau tanya sate Pak Gino yang di sebelah enak gak, mahal gak, sapinya jantan atow betina, kapan dipotongnya? saya mau lihat prosesnya buat artikel majalah saya”. Percaya gak gw ngomong gini, bagus..bagus.. kalo gak percaya, berarti lw(pembaca.red) pinter whekekkk…
Baidewei eniwei baswei, ternyata gw salah tempat. Si bapak kumisan bilang, pengadilan tinggi bandung ada di daerah Gedung Sate Gasibu, pas disamping kantor Telkom. “oooo..”,ekspresi gw saat itu dengan tatapan kosong plus ileran (gak ding, gw masih normal).

Tancap gas, jalan-jalan ke Gasibu…Dari arah berseberangan, gw melihat dengan jelas kantor yang dimaksud. Jadi, motor gw bawa pada posisi ke kanan sambil berpikir siapa tau ada puteran deket2 sini. Tapi, ternyata itu semua salah, entahlah. Hingga gw harus terpaksa naek jalan layang sampe ngelewain Dago. Puteran yang sangat jauh pikirku saat itu(polos amat sih).
Karena sudah agak jauh, jadi gw kepikiran buat mampir dulu ke PapaRons Pizza yang denger2 dengan bayar 22rb bisa makan sepuasnya..Lumayanlah buat ngisi perut. Gw ‘en temen gw masuk ke PapaRons dengan PeDe lalu duduk di kursi yang bentuknya seperti sofa.
Pas pelayan dateng, gw langsung nanya “Mas, disini bisa bayar pake visa debit ga?”, karena gw yakin banget gw gak bawa duit tapi gak nyadar kalo gw juga gak bawa kartu visa debit yang dimaksud.
Si mas-mas pun menjawab “Waduh, gak bisa mbak, disini bisanya visa kredit”.
Dengan tampang agak kecewa gw komentar “Yaah..gak bisa ya..Yaudah kalo gitu ATM Mandiri deket sini dimana mas?”,tanya gw dengan yakinnya kalo gw bakal balik lagi setelah mencairkan beberapa lembar uang dari mesin ATM Mandiri terdekat.
Setelah sempet berpikir panjang keq orang bingung, si mas dengan tidak yakin menjawab “ehhmm..(sambil celingukan), mungkin di rumah sakit sini(sambil menunjuk ke arah luar) mbak yang deket”, dan gw pun keluar dengan innocent dan tetep Pede.

Di luar gw melihat plang bertuliskan RUMAH SAKIT MELINDA 500m. Gw pikir 500m itu deket, ternyata setelah muter2 gak karuan, sampailah gw pada rumah sakit yang dimaksud. Tapi, gw urungkan niat untuk masuk, karena gak mau kena tarif buat parkir. Daripada muter-muter makin gak karuan, sepertinya lebih baik untuk malanjutkan perjalanan dan melupakan pizza paparons(masih belum nyadar gak bawa kartu ATM).

Perjalanan kembali melintasi jalan layang nan tinggi sehingga kota Bandung yang agak gak rapi ini keliatan sangat jelas sekali dari atas.
Sungguh pemandangan yang indah, melihat rumah-rumah yang berjejer dengan posisi asimetris di bawah cahaya langit biru penuh kesilauan ditambah tiupan angin gak sepoi-sepoi.
Dengan penuh rasa syukur, sampailah gw di kantor pengadilan tinggi Bandung. Di dalemnya ada 4 bapak-bapak di meja resepsionis. Gw heran kalo di swasta kebanyakan resepsionisnya cewek2 cantik, tapi kalo di kantor PNS, resepsionisnya kumpulan bapak2, “Apakah maksud di balik semua ini?”, pikir gw sedikit mendramatisir gak penting.
Dengan segera mungkin, pertanyaan seputar pengumuman CPNS gw lontarkan, dan ternyata eh ternyata, semakin jelaslah kesalahan ‘en kebegoan gw yang selama ini belum terkuak ke permukaan. Berkas lamaran yang seharusnya gw bawa langsung ke kantor itu, malah gw kirim ke Jakarta via pos. Jadinya gw gak dapet nomor registrasi dan otomatis gak bisa ikut ujian CPNS.

Gw ‘en temen gw keluar dengan sedikit kecewa dan menyesali kelalaian yang selama ini terjadi dan berpikir untuk segera bertobat (lhoh..).
Entah dapet bisikan setan atow emang otak sudah agak2 error, pas gw ngeliat kantor Pertamina di seberang jalan, gw nyeplos “kita kesana dulu yuk, nanya ada lowongan apa enggak”, dan herannya temen gw meng-iyakan. Padahal udah jelas-jelas banget Pertamina cuma buka rekruitasi pas Expo Karir di UGM, ITB dan UI yang sudah berlangsung. Selebihnya Gak Ada, titik.

Sampe di parkiran Pertamina, pas ngeliat lagi-lagi kumpulan bapak-bapak, tapi ini di pos satpam, saat itu juga gw tersadar dari penyakit amnesia gak terkontrol “gw mo ngapain sih”. Namun, temanku yang baik hati mengingatkan “katanya mau nanya lowongan”. Dengan kesadaran tingkat tinggi, gw ngajak temen gw cabut dari sana “udah deh cabut aja, gak jadi”. Tapi dia malah keukeh mau nanya, “nanggung geh, udah nyampe sini”. Sebagai teman yang penuh pengertian, gw membebaskan temen gw untuk mengekspresikan dirinya. Sambil cengar-cengir gak jelas, gw menyaksikan dialog antar satpam dan jobseeker yang putus harapan. Kira2 percakapannya seperti ini :

TemenGw : “Permisi pak, disini ada lowongan gak?”
Satpam : “Wah, gak ada neng. Disini mah karyawannya malah di tendang”
TemenGw : “Yah, gak ada ya pak. Sekarang susah ya pak nyari kerja”
Satpam : “Iya neng, mending cari suami aja neng, langsung nikah”
TemenGw : “hehehe Yaudah deh pak, makasih ya pak, Permisi”

Gw cuma bisa geleng-geleng kepala menyaksikan semua ini. Sungguh miris wkkakakkk..

Karena bermaksud mencari hiburan dikala hati gundah gulana, maka gw ajak temen gw ke tempat wisata terdekat dan pilihan jatuh kepada MUSEUM GEOLOGI. Anehnya lagi, kenapa temen gw itu pasrah banget gw ajak kemana-mana. Untuk pertama kalinya, gw menginjakkan kaki ke museum yang isinya batu semua ditambah kerangka makhluk2 purba. Baru kali ini gw dapetin hiburan maha dasyat keq gini. Ngeliatin tulang belulang yang super gede plus batu2 yang selama ini cuma gw injek2 tanpa belas kasihan.

Fyuh, aneh banget perjalanan gw rasa2nya. Setelah asyik wisata di Museum Geologi, dan karena melihat aura yang semakin negatif maka gw memutuskan untuk langsung pulang aja ke Dayeuhkolot. Perjalananpun lancar tanpa kendala berarti. The End.

NB (Pesan Moral) : Baca pengumuman dengan detail sebelum melaksanakan dan periksa dompet sebelum bepergian.

Peran Pers Kampus

Kampus merupakan bukan hanya sebagai tempat dimana para pemuda pemudi Indonesia menuntut ilmu tapi juga sebagai wadah untuk membentuk idealisme. Pers sebagai salah satu mediator pembentuk paradigma massa, dituntut untuk menunjukkan peran aktifnya karena peradaban kampus turut dipengaruhi oleh peran pers dalam kampus tersebut. Kita lihat contoh pada era Perjuangan Kemerdekaan Indonesia, pers memberikan pengaruh yang signifikan dalam memompa semangat perjuangan Bangsa Indonesia untuk melawan penjajah dan menegakkan Kemerdekaan di Republik Indonesia ini. Dengan analogi seperti inilah, peran pers sangat penting dan bukan hanya menjadi sarana pemberi informasi tapi juga sebagai motivator, inspirator dan komunikator.

Sebagai motivator maksudnya para pendengar khususnya mahasiswa diberikan suntikan motivasi atas isu-isu yang sedang berkembang di kampus agar mereka lebih intens dan peduli serta mampu mengkritisi terhadap kebijakan-kebijakan kampus. Sehingga mahasiswa tidak hanya sebagai penonton tapi juga bisa turut andil menjadi pelaku perubahan. Sebagai inspirator maksudnya tulisan-tulisan yang disajikan mampu memberikan inspirasi kepada para pembaca. Memberikan inspirasi bahwasanya dunia adalah luas, sebagai mahasiswa tidak bisa menutup diri dari segala pergolakan yang sedang terjadi baik di kampus maupun yang terjadi di lingkungan global, seperti kemajuan teknologi hingga peran politik mahasiswa di masyarakat harus ditonjolkan. Komunikator yaitu secara tak langsung pers juga berperan sebagai fasilitator atau media komunikasi penyampaian aspirasi dari mahasiswa ke pihak institusi.

Selain itu, objektivitas penulisan harus dikedepankan karena pers kampus harus menjadi lembaga atau wadah berkumpulnya penulis-penulis yang netral, tidak memihak namun mengkritisi secara pedas berdasarkan kacamata pers. Segala tulisan yang dipublikasikan boleh menjadi perdebatan hangat namun esensi dari tiap artikel harus bisa diterima dengan pemahaman sebaik-baiknya. Pers kampus yang merupakan tempat bersatunya para jurnalis kampus sudah seharusnya mampu memanfaatkan momentum kepengurusan untuk menjalankan perannya sebagai mata-mata kampus, intelegen kampus dan kepanjangan tangan mahasiswa. Agar pers kampus memiliki kinerja yang optimal, perlu dukungan dari pihak institusi terkait. Baik itu berupa dukungan moral maupun materil. Adanya bentuk penghargaan secara konkret dari pihak institusi dan diiringi penyediaan sarana dan prasarana yang cukup memadai akan mendorong tumbuh sehatnya pers kampus. Dan pers kampus dapat melakukan peran jurnalistiknya secara profesional dan proporsional.