Aku Hanyalah Pohon Kota

Ketika matahari datang dengan senyumnya, angin berhembus dengan lembutnya dan langit terpapar dengan memamerkan keindahannya, para manusia lalu lalang dengan kedua kaki menapak gagah di permukaan bumi. Satu persatu terlihat semakin menjauh, semakin mendekat dan ada pula yang hanya berputar-putar menunggu keberkahan hari. Itulah gambaran manusia kota yang lewat di sepanjang jalan ini. Jalan protokol di jantung kota yang bersandingan dengan gedung-gedung pencakar langit tempat para kuli berpakaian rapi mengejar kumpulan kertas bernilai sebagai modal untuk menikmati dunia.

Sedangkan aku, tumbuh perlahan sedikit demi sedikit, satu cm satu hari, memanjangkan akar untuk mendapatkan air dan sari mineral yang berguna untuk tubuhku, menghijaukan daun dan merontokkannya agar aku tak kekurangan air, mengokohkan batang agar mampu berdiri dengan tegap, mengeluarkan oksigen disiang hari agar kota ini tidak mati dipenuhi polusi dan kadang-kadang aku mampu menjadi pelindung manusia dikala matahari sedang marah dan tak bisa diajak kompromi. Itulah aku, aku hanyalah sebatang pohon yang hinggap dan menetap di tengah kota. Aku sendiri dan aku menua ditengah-tengah peradaban metropolis.

Kemanakah teman-temanku? Sangat disayangkan mereka tak sekokoh dan seberuntung aku. Ada yang lapuk dimakan waktu. Ada pula yang harus menjadi korban pihak manusia yang ingin memanfaatkan tanah tempat mereka tumbuh. Sungguh aneh manusia-manusia itu, hanya karena ingin meletakkan mesin beroda yang memberi mereka kenyamanan didalamnya, mereka rela mengorbankan kenyamanan diluar. Mereka terlalu nyaman dengan persembunyiannya. Mereka sudah tidak lagi peduli dengan kenyamanan sesungguhnya yang semestinya harus mereka ciptakan. Teman-temanku dibuang hanya untuk lahan parkir. Akan seperti apa lagi kota ini jikalau aku nanti punah dan tidak ada penerusku. Polusi akan semakin menjadi-jadi. Terik akan semakin memuncak. Buruknya lagi jika Tuhan murka dan menurunkan hujan tanpa henti berhari-hari. Siapakah yang membantu manusia menelan air-air itu. Aku tak habis fikir, kenapa manusia-manusia cerdas itu memiliki hati yang keras dan pikiran yang sempit. Tapi sudahlah. Kesaksianku tidak akan ada gunanya karena aku tidak bisa berbicara. Aku hanya bisa menyaksikan dan diam di tengah kota besar karena aku hanyalah pohon kota.

Oouch!! mataku terselip debu. Kenapa tiba-tiba banyak sekali debu beterbangan disini. Oh ternyata debu ini terbawa angin saat langkah sepatu-sepatu dekil itu bergerak mendekatiku. Ah, lagi-lagi seperti ini. Aku bosan melihatnya, tapi sesungguhnya aku tidak akan bosan jika aku ikut bersama mereka karena aku juga ingin berkontribusi menyuarakan aspirasi saat suara hati kaum sudra tak lagi didengar. Ayo mahasiswa, aku mandukung kalian. Tetaplah suarakan jeritan hati kaum kecil dengan intelegensia dan kreatifitas kalian. Tetaplah gunakan bara semangat dan kekuatan kalian untuk belajar berjuang di jalan yang benar. Tetaplah gunakan hati dan nurani kalian untuk merasakan dan menentukan kebenaran hidup. Melihat demonstrasi yang selalu menyuarakan kebaikan, aku jadi berfikir lagi. Jika saja tiap tahun, negeri ini melahirkan pemuda-pemuda yang berjuang membela kebajikan seperti yang aku saksikan saat ini, berarti akan semakin baik pula negeri ini kedepannya karena jiwa-jiwa yang kotor telah terkikis dan tergantikan. Namun, kenapa masih begini-begini saja negeri ini, padahal aku sudah menyaksikan ratusan bahkan ribuan lebih adegan ini bertahun-tahun. Apa semua itu hanya skenario untuk mencari simpati dan mendongkrak kepopuleran semata. Kalau memang benar seperti itu, munafikkah mereka? mengutuk si koruptor padahal mereka juga calon-calon koruptor? Inilah pertanyaan yang tidak mampu aku jawab hingga hari ini karena aku tidak berinteraksi, tidak berkomunikasi dan tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahnya. Aku hanya bisa menyaksikan dan diam di tengah kota ini karena aku hanyalah pohon kota.

Matahari perlahan menjauh dan sinarnya mulai meredup dikala sore tiba. Keadaannya tidak sepanas tadi siang. Tapi kenapa bising sekali. Suara sirine itu menghancurkan keheningan sesaat yang aku rasakan. Wooow, ada dua, bukan.. tapi tiga, empat, lima tepatnya enam mobil pemadam kebakaran lewat melintasi jalan didepanku. Sudah dapat ditebak, arah mobil-mobil itu tepat ke sebuah pemukiman padat di pinggir kota. Mengerikan sekali. Aku tak dapat membayangkan seganas apa si jago merah yang akan mereka padamkan dengan begitu banyaknya armada. Walaupun sudah pasti ada korban materi yang hilang namun aku berdoa semoga saja tidak ada korban jiwa yang melayang. Begitulah, kota ini sudah terlalu rapat, jarak satu rumah ke rumah lainnya terlampau dekat. Materialnyapun kadang-kadang seadanya dan buruknya lagi terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Belum lagi sambungan arus pendek listrik yang memicu munculnya api menjadi langganan masalah. Ironisnya, ini sering terjadi di pemukiman warga yang hidup kekurangan. Kasihan mereka. Hati ini terpanggil untuk membantu, tapi apa daya aku tak memiliki kaki untuk berjalan dan tak memiliki tangan untuk menyelamatkan. Aku hanya bisa diam karena aku, hanyalah pohon kota.

Keringat perlahan berjatuhan dari dahi wanita tua itu. Daki semakin mengering di tubuh anak kecil yang malang itu. Pergi pagi pulang petang, ke jalanan untuk mencari makan. Seorang ibu menggendong anak balita tak berdosa semata-mata untuk kepentingan perut. Yah, mau bagaimana lagi, pekerjaan sulit didapat. Tanpa rasa malu tangan dibawah menjadi andalan mereka yang tidak ingin kelaparan. Aku sedih melihatnya. Siapakah yang harus dipersalahkan karena semakin banyak yang mencari rezeki dengan jalan menjadi pengemis. Mereka sendiri yang tidak mau berusaha dengan mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat, para dermawan yang membuat mereka semakin nyaman dengan pekerjaannya, pemerintah yang tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka, atau justru Tuhan yang memberi mereka nasib. Oh tidak, Tuhan tidak dapat dipersalahkan karena bagaimanapun juga nasib masih dapat diubah dengan berusaha. Jadi apa artinya ini? Hmm, aku bingung sendiri dibuatnya. Biarlah waktu yang menjawab karena aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya bisa diam karena aku, hanyalah pohon kota.

Lama-lama aku bosan. Hari ke hari aku menyaksikan hal yang sama. Aku butuh suatu perubahan. Ahaa..aku senang hari ini, disaat aku akan mengakhiri sore dengan keletihan, tiba-tiba saja ada dua pria muda sedang memasang spanduk bertuliskan “PENANAMAN SEJUTA POHON”. Sebuah program independen yang dilaksanakan sekelompok anak muda yang prihatin dan peduli terhadap lingkungan. Syukurlah, inilah yang aku tunggu-tunggu, aku senang melihat ini. Paling tidak aku tidak perlu khawatir jika saja hari esok aku tidak disini lagi. Dan akupun bisa tenang manakala petugas kota akan membuangku malam ini seperti yang mereka lakukan terhadap teman-temanku sebelumnya.

Iklan

cerbung(3)

Selasa pagi, di ruangan kelas 3 IPA 6. Saat itu aktifitas kelas berjalan seperti biasanya. Para siswa sudah ada yang duduk-duduk di dalam kelas sambil mengobrol sebelum bel masuk berbunyi dan ada pula yang masih berkeliaran di luar kelas dengan kegiatan masing-masing. Ada Putu sang ketua kelas yang bercengkrama dengan Septi, Udjo dan Fahri di depan pintu kelas. Ada Meri, Putri dan Afi yang bergosip di tepi taman di luar kelas. Ada pula Toni yang justru sendirian, berdiri dan diam sambil berulang kali melihat layar ponsel yang digenggamnya.

Tak lama kemudian datang sesosok wanita paruh baya berambut setengan beruban dengan tas yang dijinjing yang isinya tak lain tak bukan adalah sebuah buku tebal dengan judul “Sejarah Nasional Indonesia”. Antusiasme belajar tidak terlihat di kelas itu. Entah kenapa mata pelajaran yang satu ini menjadi kurang diminati bahkan terkesan membosankan. Padahal banyak Bangsa besar di dunia, mata pelajaran sejarah dipakai sebagai pembentukan karakter bangsa dan untuk menanamkan benih kecintaan pada tanah air karena mereka sadar bahwa kemajuan yang diperoleh sekarang tidak pernah lepas dari perjuangan para founding father di masa lalu. Namun, ironisnya yang terjadi di Negara kita sendiri adalah para siswa dibuat sibuk menghafal tanpa memperoleh esensi sejarah itu sendiri. Sungguh miris.

Terlepas dari itu semua, raut wajah Toni saat itu seperti sedang dirundung pilu. Walaupun ada sedikit rasa mulai tumbuh di hati Toni untuk Eri. Tapi, dengan alasan persahabatan yang tidak ingin dikotori dengan perasaan yang lain, Toni tetap memilih untuk mencoba memberikan hatinya pada salah satu murid perempuan dari kelas lain yang dikenalnya  dua bulan yang lalu saat sedang bertandang ke rumah sahabatnya yang juga satu kelas dengan sang pujaan hati. Cinta pada pandangan pertama. Itulah yang terjadi pada Toni.

Selama masa-masa sang guru sejarah bercerita tentang Kerajaan Majapahit, raut wajah Toni tidak banyak berubah dan itu mengundang tanda tanya Tya dan Eri. Hingga saatnya pelajaran selesai dan bel istirahat berbunyi, mulailah percakapan antara 3 orang sahabat tersebut.

Eri : “kenape lu, kusut amat muka lu?”
Toni : “cewek tu emang brengsek tai kucing” *berkata penuh emosi*
Tya : “sabaar, koq jadi ngamuk gini. Gak seburuk itu koq. istighfar, kata2 lo bisa nyakitin hati orang laen tau. Kalau kata Rasul mah Berkatalah yang baik atau diam” *Tya selalu mengaitkan permasalan dengan jalan kembali ke agama*
Eri : “iya nih, buset ngomong lu kasar amat, gimana gak kabur cewek2” *ucapan Eri selalu to de point*
Toni : “hmfffff….gw udah frustasi, gw udah coba bersikap baek, gw udah sopan ke dia, gw udah mencoba selalu membantu dia saat dia ada masalah, gw coba kasih perhatian tapi apa yang gua dapet, cuma kecewa sebagai orang yang gak dianggap bahkan sebagai temanpun. Gw ngerasa gak dianggap, cuma karena apa? KARENA GW SUKA SAMA DIA. Apa salah kalo gw perhatian sama orang yang gw suka?? thoh masih dalam batas kewajaran” *melampiaskan kekesalan*
Tya : “oo, maksud lu cewek yang lo ceritain kemaren?” *kasus mulai terkuak*
Toni : “Sorry ya buat para cewek-cewek tapi kadang emang sikap kalian udah kelewatan buat menyikapi kebaikan orang lain. Apa salahnya kalo ada orang yang suka sama kalian toh mereka cuma mau memberi sesuatu buat orang yang disukai bukan berarti berharap lebih kan, cuma sekedar pengen berbagi dengan orang yang berarti dihati dia. Tolong hargai sedikit. Jangan anggap kayak sampah dimata kalian dan seakan kalian sempurna cuma karena aku INGIN MENGAGUMI” *curahan hati seorang yang mengagumi*
Eri : “Wooooow..so sweet banget kata2 lu. gini nih kali lagi jatuh controng. Tapi masalah hati mah gak bisa dipaksainlah karena smua udah ada yang ngatur. Inget hukum sebab akibat. Bisa aja kan sikap cewek itu sebagai bentuk perlawanan karna ngerasa gak nyaman sama sikap lu. introspeksi diri dulu deh. Tenang aja masih banyak koq cewek laen. Lagian baru kenal beberapa bulan koq, masih ada waktu buat nunjukin kalo lu tuh gak seburuk yang dia kira” *mengganggap semua masalah menjadi simple*
Toni : “apa, perlawanan? gak nyaman? soalnya cewek selalu merasa paling benar, paling sempurna seakan kalo udah ada yang perhatian berarti ada udang di balik batu tanpa pernah memberi kesempatan untuk sekedar berbagi. Bilang sikap gw yang salah yg mana? satu2nya kesalahan gw cuma karena GW SUKA SAMA DIA. Dan dia gak pernah memandang gw cuma karena dia pikir gw bakal maksain dia buat jadi cewek gw. Ga!! gak sama sekali gw cuma pengen berbagi selama gw bisa, gw cuma pengen ngisi sedikit arti di hidup dia meski tidak untuk memiliki, tapi gimana bisa kalo udah ada prejudice! Dasar brengsek!” *kekesalan dan emosi berpadu jadi satu*
Tya : “Gw tau lo orang baek Ton, seperti cerita yang selalu gw denger selama ini dan semua perlakuan lo, perhatian lo sebagai implementasi rasa suka dan kekaguman lo pada cewek itu, semua ga ada yang salah koq.. Hanya saja ada satu yang kurang, yg lo belum punya, yaitu ikhlas. lo bilang kalo lo ‘bukan berharap lebih’ tapi lo berharap dianggep. Menurut gw hati dan pikiran lo gak kompak. Coba deh untuk ikhlas Ton, insyaAllah, dia bakal luluh dengan kabaekan lu” *mencoba menilai dengan bijak*
Toni : “Thx Tya, gw cuma udah cape aja, gw gak tau harus gimana lagi. Ikhlas untuk diperlakukan nggak adil cuma karena perasaan yang masih sulit gw mengerti” *merasa sedikit tenang tapi masih kecewa*
Eri : “Ya ampun, trus menurut lu cewek mesti gimana? nerima perhatian cowok yg kagum sama dia, trus kalo cowonya semakin suka, keq kasus lu, apa gak lu ndiri yang ntar malah makin suka, capedeh, dibekin salah dikasarin juga salah, gimana gak ditendang kalo gitu” *gak terima gitu aja sikap Toni*
Toni : “Ah macam betul aja lo.. Emang lo tau gitu perasaan gw? Emang lo tau gw bakal gimana kalo udah deket? Jadi menurut lo dengan mutusin pertemanan jadi solusi? Hah gaya lo sok ceramah, gw cuma gak suka dengan cara kayak gini..emang cewe tu brengsek tai kucing!” *kemarahan yang kembali mencuat karena sentilan Eri*
Eri : “makanya gw nanya mesti gimana cewek? Jangan nyalahin aja donk, kalo lu aja tutup mulut, emangnya gw bisa baca isi hati orang, plis deh.. klo cuma bisa nyalahin, sama aja lu dengan yang lu omongin, cwe jg bisa bilang cwo tu brengsek tai kucing!” *makin tidak terima kata-kata kasar Toni*
Toni : “He,,udahlah ri gak usah diterusin ntar malah kita yg pacaran lagi hehe.. lagian dia juga gak tau yang kita omongin disini, ketemu sama gw aja dia gak mau. dia emang bener2 tai kucing” *merasa Eri perhatian sama dia*
Eri : “hahaha dasar gila, nasib lu apes! Masalahnya gw jg bakal ngelakuin hal yang sama kalo ada setan ngejer2” *menganggap kejadian Toni adalah hal yang lucu*
Toni : “sialan lo ri, sesetan2nya gw, gw jg milih2 ogah banget gw ngejer mak lampir kayak lo wuahahaha” *bertengkar atau bercanda?*
Tya : “Ri udah yuk, laper nih”
Eri : “oya, sory ya mak lampir mau nyari cowok ganteng dlu, yuk Tya, ke kantin”
Toni : “Yaelah, mending nyari ki joko bodo aja sono dibawah pohon asem haha” *??????*
Tya : “iih kalian ini” *seakan sudah hafal kebiasaan kedua temannya ini*

Toni tertawa. Sekali lagi, Tuhan membolak-balikkan hati manusia dengan caraNya yang unik.

***

(percakapan disadur dari pembicaraan di status FB,, thx 4 d’inspiration)

cerbung(2)

……

Eri, gadis 25 tahun yang masih menikmati kehidupan dengan status singlenya. Eri hanyalah satu potret kehidupan metropolis yang menuntut moderinitas konsep berfikir kebanyakan kaum wanita. Kemandirian selalu diusung tinggi menjadi kambing hitam untuk menutupi ketidakberuntungannya dalam hal asmara. Perempuan zaman sekarang harus pintar, mandiri dan setara dengan pria. Jargon-jargon yang terus ditanamkan tatkala kehidupan terus menuntut demikian. Namun tak hanya itu, beberapa persepsi memunculkan sinisme akan keberadaan kaum adam. Puluhan, ratusan bahkan mungkin ada ribuan wanita single mencap lawan jenisnya dengan pengklasifikasian yang cukup menggelikan. Nice guy are ugly but handsome guy are playboy and sometime bad guy are more attractive than nice one. Alasan yang cukup masuk akal untuk membuat para wanita tetap menikmati status single fighter. Realita di kota besar, ada banyak sekali wanita single. They are single and they are very happy, but are they available? Who knows!!

****

8 tahun yang lalu–

plok, bunyi pecahan telur yang mendarat mulus di kepala seorang gadis manis berambut panjang di hari ulang tahunnya yang ketujuhbelas. Tradisi anak muda berseragam putih abu-abu yang entah dari mana asalnya. Telur mentah ditambah bubuk putih tepung yang seharusnya bisa dijadikan bahan dasar kue ulang tahun, justru dibuang begitu saja sebagai ekspresi suka cita kegembiraan masa muda.

..Happy birthday to you 2x

Happy birthday 2x

Happy birthday to you..

Bukan doa bersama atau tiup lilin akhir dari lagu ini. Saling berkejar-kejaran, balas dendam, teriak-teriakan, tertawa dan celaan sayang yang justru terlihat jelas. “orang gila..orang gila..”, dengan kompak dilontarkan untuk sang objek penderita yang tak lain adalah Eri.

Di sudut lain, Ical hanya berdiri dari kejauhan menyaksikan raut ceria Eri dan teman-temannnya. Hati kecilnya ingin sekali turut memberikan ucapan selamat kepada Eri. Posisinya sebagai seorang admire yang pemalu, membuatnya berat melangkahkan kaki dan memaksakan membuka mulutnya untuk Eri. Apakah ia bodoh karena membiarkan Toni maju mendekati Eri?

“Hahaha.. ada orang gila nih” sahut Toni yang dengan seketika memberikan tangannya untuk berjabat dengan Eri. “Selamat ulang tahun ya Ri”

“iya makasih” jawab Eri sambil bersalaman dengan Toni

“Ulang tahun ke 20 ya?” canda Toni

“Enak aja” jawaban spontan yang berhadiah tawa untuk Toni

Bagi Toni, senyum Eri ini semakin membuat hatinya lumer karena diam-diam ia menyukai Eri yang selama ini selalu menjadi ‘teman bertengakar’-nya. Seperti kucing dan anjing, Eri dan Toni tidak pernah mau mengalah satu sama lain untuk urusan sepele sekalipun. Namun mereka tetap kompak dan selalu saling memaafkan. Hanya ego masa remaja yang membuat mereka bertingkah seperti ini karena sesungguhnya dalam hati kecil mereka telah tumbuh rasa tertarik yang direfleksikan dalam polah saling mencela.

…….

Cerbung(1)

……..

“whaaaaatttt… jadi lo dah merit sama Indra?”, kaget Eri setengah mati.

“Ya mau gimana lagi Ri, gue dah sayang banget sama dia, dan gue…gue gak mau kehilangan dia, gw pikir salah satu cara buat terikat terus sama dia seumur hidup gue..yaaa gini”, keluh Tia membela diri.

Eri yang masih tidak percaya dengan keputusan sahabatnya Tia terus saja melontarkan bentuk ketidakyakinannya melalui percakapan di telepon selular sore itu. Sambil menikmati kemacetan kota di dalam sebuah Taxi berwarna biru, Eri mengaktifkan tombol loadspeaker di sudut kiri layar ponselnya karena telinganya sudah gerah mendengar hal yang menurutnya merupakan hal paling tolol yang pernah dia dengar.

Tanpa mampu mengendalikan emosi, dengan lancar kata-kata keluar dari mulut Eri tanpa jeda, “Lo masih punya otak kan Ya? gue kan dah berkali-kali bilang sama lo dari zaman kapan, kalo lo tuh mesti jauh-jauh dari cowok yang namanya Indra. Dia bukan pasangan yang tepat buat lo. Lo masih pantes koq dapet yang lebih baik. Apa karena dia kaya, punya banyak uang, trus lo mau aja jadi bininya, padahal lo tau sendiri kan kalo dia it..”

“Plis stop jangan ungkit itu lagi ya Ri”, pinta Tia memotong percakapan. “Gue tau otak gue kalah sama perasaan gue kali ini, dan gue akan tetep bilang ke lo satu hal yang gue yakinin dari dulu kalo gue..”

“GueNgerasaDiaSoulmateGueNgelengkapinHidupGueDanSatusatunyaCowok
YangPalingBedaDariCowokcowokLaennya” lanjut Eri

“Plis deh Ya, gue sudah hafal banget sama kata-kata lo ini. Lo dah bilang ribuan kali, anak Tk juga pasti inget”, jawab Eri dengan sinis.

“Terserah deh Ri, lo mau ngomong apapun”

“Taaapi Yaa…”

“Gue tau lo pasti kaget ngedenger berita ini. Gue ngasih tau lo sekarang karena gue masih nganggep lo sahabat gue yang bisa ngerti gue.  Nasi dah jadi bubur Ri, faktanya sekarang gue udah 4 bulan nikah syiri sama Indra dan selama itu juga gue gak dianggep anak sama bonyok gue..” sesaat ucapnya tertahan karena bibir sudah tak mampu berucap. Hanya terdengar hembusan nafas berat Tia dengan isakan kecil yang mengiringinya.

Keheningan berlanjut, Eri yang semula marah tiba-tiba tersentak untuk keduakalinya. Ia tidak percaya sahabat yang dikenalnya sejak duduk di bangku sekolah menengah atas itu mengalami nasib yang sulit dicari korelasinya jika ia mengingat-ngingat betapa lurusnya jalan hidup Tia selama ini. Namun kenyataan yang ia dengar, sungguh diluar imajinasinya sekalipun.

Sayup-sayup terdengar pelan suara Eri di telepon, “Sorry Ya..gue gak bermaksud bikin lo tambah sedih, trus gimana lo sekarang?”, dengan suara yang agak sungkan Eri memberanikan diri bertanya.

“Gue bahagia hidup dengan Indra. Di perut gue udah ada janin umur 2 bulan. Gue selalu berdoa semoga kelahiran anak gue nanti bisa jadi penyambung hubungan gue sama keluarga gue”

Kali ini Eri merasakan aura kebahagiaan yang memantul dari indra pendengarannya. Jelas sekali Tia tidak sedang berbohong. Nafas sesak sebelumnya berubah menjadi nafas keceriaan yang muncul selayaknya obat manjur yang menghilangkan penyakit dalam sekejap.

“Tapi ya gitu deh Ri, gue mesti sabar karena Indra cuma bisa ketemu sama gue tiga sampe empat hari dalam seminggu”, protes Tia sedikit

“Yaudah deh Ya kalo emang lo dah bahagia disana..mudah-mudahan doa lo dikabulin sama Allah. gue juga bantu doain koq, tenang aja hehe..”

“Nah gitu donk, itu baru namanya sahabat gue”, jawab Tia

“Eh, gue dah mo nyampe nih, gila macet banget nih kota, jarak 100 meter aja jadi berasa 1 kilo.. tar kita sambung lagi ya bu, gue mo turun dulu”

“Ok, gue telfon lo tar malem ya, kebetulan suami gue gak ke rumah”, tawar Tia pada Eri.

“OK deh say, gue tunggu ye.. hari ini jadwal suami lo ke istri pertama ya bo’ hahaha”, canda Eri.

“hu’uh” ucap Tia dengan nada terpaksa

klik, bunyi tombol off yang ditekan Eri dari ponselnya tanda usainya percakapan.

(29/05/09)

………..

Sebatas Sabarkah??

Langit begitu cerah pagi ini, namun hal itu bertentangan dengan suasana hatiku yang sedang mendung tertutup awan dan kabut. Betapa tidak, aku mau tidak mau harus menjalani rutinitas dan seolah-olah terjebak dalam lingkar hidup yang membuatku gerah. Setiap hari aku harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri dimana orang yang kusayangi dan juga seharusnya menyayangiku namun bertindak diluar dugaanku. Aku tidak tahu alasan apa di balik semua perbuatannya, yang aku tahu hanyalah ia di berhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja. Dan sejak saat itu, ia mulai berubah. Dialah ayahku, yang sudah beberapa tahun belakangan ini selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan tidak membawa uang sepeserpun untuk menghidupi keluarganya. Entah setan apa yang merasuki raga ayahku, begitu lemahnya ia hingga berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena kehilangan mata pencaharian. Berbeda dengan ibuku, sosok wanita berkerudung ini seperti tidak punya rasa lelah, apapun perlakuan ayah selalu ia terima. Dibentak, diperas hartanya, bahkan difitnah, namun ia hanya bisa diam. Aku tidak suka keadaan ini, aku kecewa melihat ayah dan ibu. Mungkin sudah tidak terhitung jumlahnya aku menyarankan ibu untuk berpisah dengan ayah.
“Ibu enggak capek apa setiap hari harus ngeliat ayah pulang larut malam, mabuk, buat apa ibu mempertahanin, mending cerai aja, lagipula Rini gak butuh ayah kayak gitu, gak bertanggung-jawab”, begitulah protesku tiap hari bila melihat ibu dibentak ayah.
“Sabar Rin,, InsyaAllah ayahmu pasti bisa berubah, ibu yakin itu”.
Sabar, sabar dan sabar, telingaku sudah panas mendengar kata sabar. Aku tak habis pikir apa semua persoalan bisa diselesaikan dengan sabar. Bahkan sempat ku bertanya-tanya kenapa aku harus hadir di tengah-tengah keluarga yang tidak becus, yang berbeda amat sangat dengan teman-temanku. Walaupun aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, namun sepertinya masalah yang aku hadapi tidak seberat anak-anak seusiaku di sekolah. Aku iri melihat mereka, kenapa ini harus menimpa aku dan keluargaku. Kadang aku sering berfikir dan mengkhayal bahwa aku adalah anak orang kaya dan memperoleh kasih sayang yang cukup dari semua orang di sekitarku.
Hingga aku sampai pada suatu saat dimana kesabaranku diuji. Aku mendapati teman-temanku memergoki ayahku yang sedang mabuk di salah satu warung kelenteng di pinggir jalan. Mereka bilang kalau ayahku payah, Cuma seorang pemabuk.
“Rin, kemaren gw liat bokap lu…yaa..seperti biasa mabuk-mabukan gitu deh, kok bokap lu gitu sih Rin, kasian ya lu punya bokap tukang mabok” ucap Icha saat bertemu denganku di sekolah.
Mungkin sudah berkali-kali aku harus menerima bahwa ternyata teman-temanku sudah mengetahui tabiat ayahku. Dan aku pun hanya bisa terdiam saat ada komentar-komentar miring tentang keluargaku. Aku tak punya senjata untuk melawan setiap cemoohan ataupun menerima rasa simpati orang lain karena aku tidak menginginkannya. Aku terlalu berkepala batu untuk menerima simpati dari orang lain. Aku merasa bahwa aku bisa kuat jika aku mampu bertahan dan menyelesaikan masalahku dengan caraku sendiri. Cara itu adalah perceraian antara ayah dan ibu. Hanya itu yang menurutku mampu menyelesaikan masalah, karena dengan itu ibu bisa terbebas dari belenggu ayah dan ayah tidak akan menambah masalah baru dalam keluarga ini karena ayah bukanlah siapa-siapa lagi. Tidak akan ada lagi ayah yang pulang larut malam dan mabuk-mabukan, tidak akan ada lagi ibu yang dibentak-bentak oleh ayah, dan tidak akan ada lagi aku yang tertekan melihat kenyataan ini. Selalu hal inilah yang terpatri dalam otakku. Memang untuk ukuran anak empat belas tahun seperti aku, tidak pernah terpikir cara lain. Hanya cara itulah yang aku tahu. Aku mengetahuinya bukan dari siapa-siapa, melainkan hanya dari sebuah televisi. Ya, benda persegi empat yang selalu menemaniku tatkala aku kesepian. Dari televisi lah aku mengetahui dunia yang terkadang hal-hal yang belum selayaknya aku ketahui, telah aku ketahui melalui televisi. Aku tahu kata cerai dari sebuah sinema elektronik dan infotainment yang muncul hampir setiap hari di televisi. Maka, aku pun menentukan bahwa perceraian ayah dan ibu adalah satu-satunya solusi bagi keluargaku karena aku tidak setuju dengan ibu yang memilih sabar sebagai jalan keluar.
Di kelas aku menjadi sosok yang antipati dan sinis. Tidak banyak teman yang bertahan jika berhubungan denganku. Aku tidak tahu kenapa, yang aku tahu hanya aku sulit untuk mempercayai siapa pun. Aku merasa semua manusia di dunia ini sama, hanya memikirkan diri sendiri dan tidak akan pernah bisa mengerti aku. Aku keras dengan pendirianku, sehingga aku pun sendiri. Aku selalu merasa tidak membutuhkan bantuan siapapun karena aku bisa sendiri dan terbiasa sendiri. Di tengah kesendirian yang kunikmati ini, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada sosok guru yang begitu perhatian kepadaku. Mungkin sudah banyak sekali perhatian dan kebaikannya kepadaku, namun aku baru menyadarinya ketika aku benar-benar butuh seseorang yang mau mendengarkan segala keluh kesahku dan membimbingku agar tak salah langkah. Sosok tersebut adalah Ibu Santi, guru Sejarah yang juga wali kelasku. Aku menemuinya saat jam istirahat pertama, kira-kira pukul 9.30 pagi. Saat itu pikiranku sedang galau karena sebelum berangkat sekolah aku melihat ayah melayangkan sebuah tamparan tepat di pipi kanan ibuku. Saat itu ayah baru saja pulang dengan keadaan mabuk dan kesal karena kalah berjudi. Ia melampiaskan kekesalannya pada keluarganya. Ayah berteriak minta uang kepada ibu, namun ibu yang hanya seorang pegawai biasa tidak memiliki uang yang banyak. Hampir sebagian gajinya ia tabung dengan alasan untuk biaya sekolahku dan sisanya untuk makan sehari-hari. Mengenai tabungan ini, ayah tidak tahu apa-apa. Pagi itu, dalam tas ibu hanya ada uang seratus ribu rupiah yang sebenarnya adalah jatah untuk beberapa hari ke depan. Dengan serta merta ayah merampas tas ibu dari tangannya dan merogoh dompet yang ada di dalamnya dan dengan cepat kilat uang itu berpindah tangan. Namun entah kenapa, ibu tidak pasrah seperti biasanya, ia melawan dan berusaha untuk menghalangi ayah mengambil uang tersebut. Maka, terjadilah tragedi pagi itu, pipi ibu spontan menjadi merah lebab karena ditampar ayah. Aku menyaksikannya melalui celah kecil pintu kamarku. Kejadian itu tepat terjadi di ruang tengah yang berdepanan dengan kamarku. Rasa-rasanya aku ingin keluar dan memukul ayah sepuasnya, namun rasa takutku melebihi keberanianku untuk keluar dari kamar saat itu juga. Aku merasa saat itu ayah seperti orang yang kerasukan, ia seperti binatang buas yang tak terkendali. Aku melihat ibu hanya bisa menagis sambil terduduk lemas. Setelah ayah memperoleh uang yang ia inginkan, ia tidak puas begitu saja, ia masih menjarah ibu dengan mengambil sebuah cincin pernikahan yang melingkar di jari manis tangan kanan ibu. Lagi-lagi ibu melawan
”jangan Pak, ini satu-satunya cincin pernikahan kita”, teriak ibu.
Namun teriakan dan perlawanan ibu tak berarti apa-apa. Ayah hanya tertawa saat cincin itu berpindah tangan. Aku yang menyaksikannya, turut meneteskan air mata kekesalan dan kekecewaan mendalam.
Setelah ayah puas dengan jarahannya, ia langsung pergi keluar rumah begitu saja. Kulihat ibu masih menangis dan akupun menghampirinya. Saat ibu melihatku melangkah keluar dari pintu kamar, ia buru-buru menghapus air matanya dan mengakhiri tangisannya. Ia bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ia bangkit dan menanyakan hal yang sama setiap harinya di waktu pagi kepadaku,
”Rin, sudah makan belum? ibu tadi goreng telur, sana gih sarapan dulu sebelum berangkat sekolah, ibu tadi udah sarapan..Ibu berangkat kerja dulu ya, takut kesiangan..Pergi dulu ya Rin..Assalamu’alaikum”
Ibu memang selalu seperti itu, ia tidak pernah membagi kepedihannya kepadaku atau bahkan menenangkanku, padahal aku mengetahui semuanya. Ibu terkesan tidak peduli akan perasaanku. Itulah yang aku ceritakan kepada Ibu Santi wali kelasku itu. Ternyata ia telah lama bertanya-tanya kenapa aku bertingkah berbeda dengan teman-temanku yang lain. Pertanyaan itu terjawab sudah, aku membeberkan semua rahasiaku kepadanya. Hari itu, aku seperti memperoleh sosok orang tua yang aku dambakan. Ibu Santi berhasil menenangkanku dan membuat hatiku kembali tenang. Ia juga mengatakan bahwa ia bersedia mendengarkan dan menjadi tempat curhatku, bahkan ia juga menawarkanku untuk tinggal bersamanya, namun aku belum terpikirkan untuk tinggal dengan orang lain. Aku butuh waktu untuk berpikir apa yang akan aku lakukan kedepan.
Percakapan yang berlangsung lama hingga istirahat kedua usai itu membuatku meninggalkan beberapa mata pelajaran yang seharusnya kuikuti. Aku kembali ke kelas dengan meninggalkan kegalauan yang aku bawa di pagi hari. Tak terasa bel berdering tiga kali yang menandakan waktunya pulang sekolah. Seperti biasa, aku pulang sendirian, dan sampai di rumah aku tetap sendirian. Aku segera menemui teman persegi empatku dan kudapati sebuah tayangan berita kriminal. Aku menontonnya, mulai dari berita perampokan, pencurian, kecelakaan hingga bunuh diri aku saksikan. Hingga malam hari kehidupanku dan ibuku berjalan normal tanpa ayah. Aku pun bisa tidur dengan lelap.
Sebelum matahari beranjak dari persembunyiannya, aku terbangun oleh teriakan yang sudah tidak asing lagi di telingaku. Suara ibu dan ayah terdengar begitu jelas hingga kamarku. Kembali lagi aku hanya bisa menyaksikan dari celah kecil pintu kamarku karena kejadian itu terjadi di tempat yang sama dengan sebelumnya. Dengan seketika kekecewaanku tumbuh lagi, kejadian kemarin terulang lagi, aku menangis lagi. Saat itu, aku merasakan kembali kekecewaan yang sangat mendalam dan kebosanan akan kehidupan kelam yang tak pernah berkesudahan. Dalam pikiranku aku hanya teringat sebuah tayangan kriminal yang pernah aku tonton, salah satu beritanya adalah seorang remaja yang tewas bunuh diri. Setelah ayah pergi dengan hasil jarahannya yang kali ini adalah akte rumah yang kami tinggali, aku keluar kamar dan aku lihat tatapan ibu kosong dengan matanya yang terus meneteskan air mata. Tapi aku tak peduli, aku berlari ke kamar setelah mengambil sebuah pisau yang tergeletak di atas meja. Ya..aku ingin mengakhiri penderitaanku, nekad aku meletakkan pisau itu di atas pergelangan tanganku, dengan perasaan takut aku mengiris nadiku, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, pisau itu ternyata tidak setajam yang aku bayangkan. Sebelum nadiku putus teriris pisau, ibu datang menghampiriku dan betapa terkejutnya ia melihatku menahan sakit dengan cucuran darah dari pergelangan tangan yang tak mau berhenti mengalir. Rasanya aku sudah tidak kuat menahan sakit dan seperti ingin pingsan saja. Sayup-sayup terdengar di telingaku ”Rin..kenapa kamu melakukan ini nak…baiklah ibu janji akan meninggalkan ayah…”

Lamunan…

Dingin malam menghembus hingga merasuki tulang-tulang jemariku. Langit hitam berselimut kabut gelap. Sepi sunyi senyap aku lalui. Betapa kelamnya jati diri. Mereka-reka harapan hati yang berlindung di balik kekosongan yang aku sendiri tidak menyadarinya“.

Malam ini tidak seperti biasanya, hujan deras diiringi angin malam datang beriringan. Setetes demi setetes air turun dari langit. Seolah-olah langit sedang bersedih atas kehampaanku, kekosonganku, kelemahanku, kegelisahanku dan kesendirianku. Tak banyak yang mampu aku lakukan. Derasnya hujan menghalangiku untuk keluar, begitu pula dinginnya malam membatasi gerakku. Satu hal yang pasti mampu aku kerjakan di sebuah kamar kecil ini adalah melamun. Entah aku tidak tahu lagi atau memang sang waktu mengomandoku untuk melamun di sebuah malam. Rasanya aku tidak perlu berpikir panjang lagi, sebab kenapa aku harus repot untuk memikirkan hal apa yang pantas aku kerjakan jika melamun adalah hal yang paling mudah untuk dikerjakan. Toh, tidak ada yang melarangku atau memperingatkanku untuk tidak melamun. Orang tuaku tinggal jauh di kampung halaman dan teman-teman kostku paling-paling sudah asyik bersembunyi di balik selimut tebal mereka dan hanya peduli pada diri sendiri. Ahhhh…aku tidak peduli, biarkan saja mereka.

Saat ini pikiranku sedang melayang-layang. Aku merasa sedang berada di suatu tempat yang asing bagiku. Aku tidak tahu dimana ini, yang aku tahu hanya banyak manusia disini. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “dunia impian“. Aku berdiri di antara puluhan, ratusan bahkan ribuan insan yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Mungkin mereka sedang berusaha mencapai impiannya. Sebab aku melihat ada yang sibuk menulis naskah sebuah novel barangkali, lalu ada yang membedah tubuh seekor kelinci dan sepertinya dia adalah seorang dokter hewan atau mahasiswa kedokteran hewan. Mataku melihat sekeliling, ada pula yang sibuk menabuh drum berkali-kali dengan kencangnya, ada yang sibuk mengutak-atik sebuah Personal Computer, hhemmm..hatiku sedikit tergelitik melihatnya sebab aku lihat wajahnya yang sudah seperi monitor komputerku di rumah. Guyonanku dalam hati atas rupa serius dan berkacamata orang tadi. Aku mendekati orang tersebut.

“Bagaimana caranya kamu bisa sampai disini? Trus kenapa kamu bawa Komputer segala?“, sebuah pertanyaan yang mengawali keingintahuanku akan keanehan yang aku lihat.

“Aku sedang melamun, lalu tiba-tiba aku berada disini..awalnya aku tidak membawa apapun, tapi setelah aku terus bertanya, membaca dan telah menemukan potensiku, lalu di kesempatan yang kedua, aku ke sini dengan perangkat komputer yang lengkap dan dapat aku gunakan…aku menyukainya dan itu cukup bagiku“, penjelasan yang lumayan panjang dan membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi di tempat ini.

Di sisi lain aku melihat ada yang sibuk mempelajari alat navigasi pesawat udara dan juga ada seorang pria dengan kostum selayaknya pemain sepak bola yang dari tadi tidak letih-letih meng-over bola dari kaki kanan ke kaki kiri secara bergantian. Banyak sekali manusia, ada yang sibuk ini dan itu. Semuanya sibuk. Tapi, sepertinya aneh karena aku melihat ada seorang yang menurutku tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Menurut pengamatanku sepertinya ia sedang tersesat. Berdiri di sebuah perempatan jalan dan di ujung salah satu jalan ia hanya terdiam sambil menggerak-gerakkan lehernya ke arah jalan yang lain, kanan, depan, kiri dan sebaliknya. Jiwa keingintahuanku membawa langkahku ke arah orang tersebut. Langkah demi langkah terus aku tapaki. Mataku hanya tertuju ke orang itu dan terus-menerus aku lewati satu demi satu manusia hanya untuk sampau ke jalan tempat orang yang kebingungan itu. Aku tidak tahu harus menyebutnya seperti apa. Atau mungkin julukan “stranger“ tepat untuknya.

“Maaf, saya perhatikan kamu sepertinya kebingungan…sebab dari tadi kamu Cuma celingak-celinguk di perempatan jalan ini..memangnya tujuan kamu kemana? Mungkin saya bisa bantu…“, tanyaku penuh penasaran.

“Tahu apa kamu, memang kamu kenal daerah ini! Saya sudah lama disini, tapi saya belum tahu jalan mana yang benar, sudahlah kamu urus saja urusanmu sendiri“, Jawabnya dengan nada yang agak meninggi.

Namun biarpun begitu aku tidak kehabisan energi dan semangat untuk menemukan jawaban dari si “stranger“ itu.

“Ok..saya memang orang baru disini, saya juga tidak tahu tempat apa ini.. tapi apa saya salah jika mencoba membantu orang lain, lagipula kalau kamu tidak suka jika saya bertanya, ya sudah..jangan paksa saya mengurungkan niat untuk membantu“, balasku.

“Baiklah, jika kamu benar-benar ingin membantu saya…jalan mana yang yang harus saya tempuh, kanan…kiri…atau depan…saya ingin ke Bulan..?“, cetusnya.

“Ke Bulaan??? Apa maksudnya, memangnya ada jalan ke Bulan lewat sini? Kamu pasti bercanda, ya kan!!”, tanyaku semakin penasaran.

”Saya tidak bercanda, saya ingin menjadi astronot..saya ingin ke Bulan, tapi saya tidak tahu jalannya..saya juga tidak membawa bekal apapun.”

”Sepertinya saya tersesat, tapi jika aku berbalik arah maka saya kembali ke rumah, padahal tekadku sudah bulat untuk menemukan jalanku untuk ke Bulan”, jawabnya.

Aku tertegun sejenak. Aku berpikir dalam hati, orang ini seperti cerminan dari diriku saat ini. Terasa seperti ada jarum yang menusuk tulang hatiku, aku merasa tersindir. Hal ini seolah-olah menyadarkanku dan membangunkanku dari kekosongan yang selama ini hinggap disanubariku. Aku terpikir tentang jati diri seperti yang selama ini aku cari-cari. Yang selama ini belum aku temukan jawabannya dan yang selama ini masih mengambang di alam pikiranku. Seorang yang mulanya aku sebut ”stranger” ini berbicara mengenai sebuah pertanyaan yang menyadarkanku bahwa akulah yang seharusnya bertanya demikian.

”Hallo…apa kamu dengar pertanyaanku tadi?”

”Saya pikir kamu benar-benar berniat untuk menolong, tapi ternyata kamu cuma bisa diam” , tukasnya dengan nada agak kecewa.

”Ehh..maaf, tadi saya sedang memikirkan sesuatu, rasanya saya tidak dapat menjawab pertanyaan kamu dengan pasti, tapi menurut saya lebih baik jika kamu kembali ke rumah untuk mempersiapkan bekal yang cukup dan temukan tujuan yang tepat…mungkin ke Bulan bukan tujuan yang tepat untukmu. Jika bekal dan persiapan sudah matang, iringi dengan semangat yang sama seperti saat ini untuk mengarungi perjalananmu yang sebenarnya…mudah-mudahan kamu tidak kebingungan lagi”, ucapan yang terlontar begitu saja dari mulutku. Seolah-olah ada malaikat yang membisikkan ke telingaku. Jawaban yang tidak hanya untuk orang itu tapi juga untukku. Jawaban yang telah membangkitkan semangatku untuk memulai pencarianku akan jati diri hidupku.
Tak terasa hujan telah reda.

”Sev, kita nonton film bareng yuk!” Teriakan Anggun dari balik pintu kamarku membawaku kembali dari ”dunia impian” ke dunia yang nyata. Saat ini aku benar-benar sadar dan tidak melamun lagi. Aku berterima kasih atas lamunanku ini. Akupun bertekad untuk memulai lembaran hidupku untuk mencari tahu akan kemanakan langkahku kedepan.