Ketika matahari datang dengan senyumnya, angin berhembus dengan lembutnya dan langit terpapar dengan memamerkan keindahannya, para manusia lalu lalang dengan kedua kaki menapak gagah di permukaan bumi. Satu persatu terlihat semakin menjauh, semakin mendekat dan ada pula yang hanya berputar-putar menunggu keberkahan hari. Itulah gambaran manusia kota yang lewat di sepanjang jalan ini. Jalan protokol di jantung kota yang bersandingan dengan gedung-gedung pencakar langit tempat para kuli berpakaian rapi mengejar kumpulan kertas bernilai sebagai modal untuk menikmati dunia.

Sedangkan aku, tumbuh perlahan sedikit demi sedikit, satu cm satu hari, memanjangkan akar untuk mendapatkan air dan sari mineral yang berguna untuk tubuhku, menghijaukan daun dan merontokkannya agar aku tak kekurangan air, mengokohkan batang agar mampu berdiri dengan tegap, mengeluarkan oksigen disiang hari agar kota ini tidak mati dipenuhi polusi dan kadang-kadang aku mampu menjadi pelindung manusia dikala matahari sedang marah dan tak bisa diajak kompromi. Itulah aku, aku hanyalah sebatang pohon yang hinggap dan menetap di tengah kota. Aku sendiri dan aku menua ditengah-tengah peradaban metropolis.

Kemanakah teman-temanku? Sangat disayangkan mereka tak sekokoh dan seberuntung aku. Ada yang lapuk dimakan waktu. Ada pula yang harus menjadi korban pihak manusia yang ingin memanfaatkan tanah tempat mereka tumbuh. Sungguh aneh manusia-manusia itu, hanya karena ingin meletakkan mesin beroda yang memberi mereka kenyamanan didalamnya, mereka rela mengorbankan kenyamanan diluar. Mereka terlalu nyaman dengan persembunyiannya. Mereka sudah tidak lagi peduli dengan kenyamanan sesungguhnya yang semestinya harus mereka ciptakan. Teman-temanku dibuang hanya untuk lahan parkir. Akan seperti apa lagi kota ini jikalau aku nanti punah dan tidak ada penerusku. Polusi akan semakin menjadi-jadi. Terik akan semakin memuncak. Buruknya lagi jika Tuhan murka dan menurunkan hujan tanpa henti berhari-hari. Siapakah yang membantu manusia menelan air-air itu. Aku tak habis fikir, kenapa manusia-manusia cerdas itu memiliki hati yang keras dan pikiran yang sempit. Tapi sudahlah. Kesaksianku tidak akan ada gunanya karena aku tidak bisa berbicara. Aku hanya bisa menyaksikan dan diam di tengah kota besar karena aku hanyalah pohon kota.

Oouch!! mataku terselip debu. Kenapa tiba-tiba banyak sekali debu beterbangan disini. Oh ternyata debu ini terbawa angin saat langkah sepatu-sepatu dekil itu bergerak mendekatiku. Ah, lagi-lagi seperti ini. Aku bosan melihatnya, tapi sesungguhnya aku tidak akan bosan jika aku ikut bersama mereka karena aku juga ingin berkontribusi menyuarakan aspirasi saat suara hati kaum sudra tak lagi didengar. Ayo mahasiswa, aku mandukung kalian. Tetaplah suarakan jeritan hati kaum kecil dengan intelegensia dan kreatifitas kalian. Tetaplah gunakan bara semangat dan kekuatan kalian untuk belajar berjuang di jalan yang benar. Tetaplah gunakan hati dan nurani kalian untuk merasakan dan menentukan kebenaran hidup. Melihat demonstrasi yang selalu menyuarakan kebaikan, aku jadi berfikir lagi. Jika saja tiap tahun, negeri ini melahirkan pemuda-pemuda yang berjuang membela kebajikan seperti yang aku saksikan saat ini, berarti akan semakin baik pula negeri ini kedepannya karena jiwa-jiwa yang kotor telah terkikis dan tergantikan. Namun, kenapa masih begini-begini saja negeri ini, padahal aku sudah menyaksikan ratusan bahkan ribuan lebih adegan ini bertahun-tahun. Apa semua itu hanya skenario untuk mencari simpati dan mendongkrak kepopuleran semata. Kalau memang benar seperti itu, munafikkah mereka? mengutuk si koruptor padahal mereka juga calon-calon koruptor? Inilah pertanyaan yang tidak mampu aku jawab hingga hari ini karena aku tidak berinteraksi, tidak berkomunikasi dan tidak tahu apa yang mereka lakukan setelahnya. Aku hanya bisa menyaksikan dan diam di tengah kota ini karena aku hanyalah pohon kota.

Matahari perlahan menjauh dan sinarnya mulai meredup dikala sore tiba. Keadaannya tidak sepanas tadi siang. Tapi kenapa bising sekali. Suara sirine itu menghancurkan keheningan sesaat yang aku rasakan. Wooow, ada dua, bukan.. tapi tiga, empat, lima tepatnya enam mobil pemadam kebakaran lewat melintasi jalan didepanku. Sudah dapat ditebak, arah mobil-mobil itu tepat ke sebuah pemukiman padat di pinggir kota. Mengerikan sekali. Aku tak dapat membayangkan seganas apa si jago merah yang akan mereka padamkan dengan begitu banyaknya armada. Walaupun sudah pasti ada korban materi yang hilang namun aku berdoa semoga saja tidak ada korban jiwa yang melayang. Begitulah, kota ini sudah terlalu rapat, jarak satu rumah ke rumah lainnya terlampau dekat. Materialnyapun kadang-kadang seadanya dan buruknya lagi terbuat dari bahan yang mudah terbakar. Belum lagi sambungan arus pendek listrik yang memicu munculnya api menjadi langganan masalah. Ironisnya, ini sering terjadi di pemukiman warga yang hidup kekurangan. Kasihan mereka. Hati ini terpanggil untuk membantu, tapi apa daya aku tak memiliki kaki untuk berjalan dan tak memiliki tangan untuk menyelamatkan. Aku hanya bisa diam karena aku, hanyalah pohon kota.

Keringat perlahan berjatuhan dari dahi wanita tua itu. Daki semakin mengering di tubuh anak kecil yang malang itu. Pergi pagi pulang petang, ke jalanan untuk mencari makan. Seorang ibu menggendong anak balita tak berdosa semata-mata untuk kepentingan perut. Yah, mau bagaimana lagi, pekerjaan sulit didapat. Tanpa rasa malu tangan dibawah menjadi andalan mereka yang tidak ingin kelaparan. Aku sedih melihatnya. Siapakah yang harus dipersalahkan karena semakin banyak yang mencari rezeki dengan jalan menjadi pengemis. Mereka sendiri yang tidak mau berusaha dengan mencari pekerjaan lain yang lebih terhormat, para dermawan yang membuat mereka semakin nyaman dengan pekerjaannya, pemerintah yang tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan untuk mereka, atau justru Tuhan yang memberi mereka nasib. Oh tidak, Tuhan tidak dapat dipersalahkan karena bagaimanapun juga nasib masih dapat diubah dengan berusaha. Jadi apa artinya ini? Hmm, aku bingung sendiri dibuatnya. Biarlah waktu yang menjawab karena aku tak mampu berbuat apa-apa. Aku hanya bisa diam karena aku, hanyalah pohon kota.

Lama-lama aku bosan. Hari ke hari aku menyaksikan hal yang sama. Aku butuh suatu perubahan. Ahaa..aku senang hari ini, disaat aku akan mengakhiri sore dengan keletihan, tiba-tiba saja ada dua pria muda sedang memasang spanduk bertuliskan “PENANAMAN SEJUTA POHON”. Sebuah program independen yang dilaksanakan sekelompok anak muda yang prihatin dan peduli terhadap lingkungan. Syukurlah, inilah yang aku tunggu-tunggu, aku senang melihat ini. Paling tidak aku tidak perlu khawatir jika saja hari esok aku tidak disini lagi. Dan akupun bisa tenang manakala petugas kota akan membuangku malam ini seperti yang mereka lakukan terhadap teman-temanku sebelumnya.