……

Eri, gadis 25 tahun yang masih menikmati kehidupan dengan status singlenya. Eri hanyalah satu potret kehidupan metropolis yang menuntut moderinitas konsep berfikir kebanyakan kaum wanita. Kemandirian selalu diusung tinggi menjadi kambing hitam untuk menutupi ketidakberuntungannya dalam hal asmara. Perempuan zaman sekarang harus pintar, mandiri dan setara dengan pria. Jargon-jargon yang terus ditanamkan tatkala kehidupan terus menuntut demikian. Namun tak hanya itu, beberapa persepsi memunculkan sinisme akan keberadaan kaum adam. Puluhan, ratusan bahkan mungkin ada ribuan wanita single mencap lawan jenisnya dengan pengklasifikasian yang cukup menggelikan. Nice guy are ugly but handsome guy are playboy and sometime bad guy are more attractive than nice one. Alasan yang cukup masuk akal untuk membuat para wanita tetap menikmati status single fighter. Realita di kota besar, ada banyak sekali wanita single. They are single and they are very happy, but are they available? Who knows!!

****

8 tahun yang lalu–

plok, bunyi pecahan telur yang mendarat mulus di kepala seorang gadis manis berambut panjang di hari ulang tahunnya yang ketujuhbelas. Tradisi anak muda berseragam putih abu-abu yang entah dari mana asalnya. Telur mentah ditambah bubuk putih tepung yang seharusnya bisa dijadikan bahan dasar kue ulang tahun, justru dibuang begitu saja sebagai ekspresi suka cita kegembiraan masa muda.

..Happy birthday to you 2x

Happy birthday 2x

Happy birthday to you..

Bukan doa bersama atau tiup lilin akhir dari lagu ini. Saling berkejar-kejaran, balas dendam, teriak-teriakan, tertawa dan celaan sayang yang justru terlihat jelas. “orang gila..orang gila..”, dengan kompak dilontarkan untuk sang objek penderita yang tak lain adalah Eri.

Di sudut lain, Ical hanya berdiri dari kejauhan menyaksikan raut ceria Eri dan teman-temannnya. Hati kecilnya ingin sekali turut memberikan ucapan selamat kepada Eri. Posisinya sebagai seorang admire yang pemalu, membuatnya berat melangkahkan kaki dan memaksakan membuka mulutnya untuk Eri. Apakah ia bodoh karena membiarkan Toni maju mendekati Eri?

“Hahaha.. ada orang gila nih” sahut Toni yang dengan seketika memberikan tangannya untuk berjabat dengan Eri. “Selamat ulang tahun ya Ri”

“iya makasih” jawab Eri sambil bersalaman dengan Toni

“Ulang tahun ke 20 ya?” canda Toni

“Enak aja” jawaban spontan yang berhadiah tawa untuk Toni

Bagi Toni, senyum Eri ini semakin membuat hatinya lumer karena diam-diam ia menyukai Eri yang selama ini selalu menjadi ‘teman bertengakar’-nya. Seperti kucing dan anjing, Eri dan Toni tidak pernah mau mengalah satu sama lain untuk urusan sepele sekalipun. Namun mereka tetap kompak dan selalu saling memaafkan. Hanya ego masa remaja yang membuat mereka bertingkah seperti ini karena sesungguhnya dalam hati kecil mereka telah tumbuh rasa tertarik yang direfleksikan dalam polah saling mencela.

…….