Langit begitu cerah pagi ini, namun hal itu bertentangan dengan suasana hatiku yang sedang mendung tertutup awan dan kabut. Betapa tidak, aku mau tidak mau harus menjalani rutinitas dan seolah-olah terjebak dalam lingkar hidup yang membuatku gerah. Setiap hari aku harus menyaksikan dengan mata kepalaku sendiri dimana orang yang kusayangi dan juga seharusnya menyayangiku namun bertindak diluar dugaanku. Aku tidak tahu alasan apa di balik semua perbuatannya, yang aku tahu hanyalah ia di berhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja. Dan sejak saat itu, ia mulai berubah. Dialah ayahku, yang sudah beberapa tahun belakangan ini selalu pulang larut malam dalam keadaan mabuk dan tidak membawa uang sepeserpun untuk menghidupi keluarganya. Entah setan apa yang merasuki raga ayahku, begitu lemahnya ia hingga berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena kehilangan mata pencaharian. Berbeda dengan ibuku, sosok wanita berkerudung ini seperti tidak punya rasa lelah, apapun perlakuan ayah selalu ia terima. Dibentak, diperas hartanya, bahkan difitnah, namun ia hanya bisa diam. Aku tidak suka keadaan ini, aku kecewa melihat ayah dan ibu. Mungkin sudah tidak terhitung jumlahnya aku menyarankan ibu untuk berpisah dengan ayah.
“Ibu enggak capek apa setiap hari harus ngeliat ayah pulang larut malam, mabuk, buat apa ibu mempertahanin, mending cerai aja, lagipula Rini gak butuh ayah kayak gitu, gak bertanggung-jawab”, begitulah protesku tiap hari bila melihat ibu dibentak ayah.
“Sabar Rin,, InsyaAllah ayahmu pasti bisa berubah, ibu yakin itu”.
Sabar, sabar dan sabar, telingaku sudah panas mendengar kata sabar. Aku tak habis pikir apa semua persoalan bisa diselesaikan dengan sabar. Bahkan sempat ku bertanya-tanya kenapa aku harus hadir di tengah-tengah keluarga yang tidak becus, yang berbeda amat sangat dengan teman-temanku. Walaupun aku masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, namun sepertinya masalah yang aku hadapi tidak seberat anak-anak seusiaku di sekolah. Aku iri melihat mereka, kenapa ini harus menimpa aku dan keluargaku. Kadang aku sering berfikir dan mengkhayal bahwa aku adalah anak orang kaya dan memperoleh kasih sayang yang cukup dari semua orang di sekitarku.
Hingga aku sampai pada suatu saat dimana kesabaranku diuji. Aku mendapati teman-temanku memergoki ayahku yang sedang mabuk di salah satu warung kelenteng di pinggir jalan. Mereka bilang kalau ayahku payah, Cuma seorang pemabuk.
“Rin, kemaren gw liat bokap lu…yaa..seperti biasa mabuk-mabukan gitu deh, kok bokap lu gitu sih Rin, kasian ya lu punya bokap tukang mabok” ucap Icha saat bertemu denganku di sekolah.
Mungkin sudah berkali-kali aku harus menerima bahwa ternyata teman-temanku sudah mengetahui tabiat ayahku. Dan aku pun hanya bisa terdiam saat ada komentar-komentar miring tentang keluargaku. Aku tak punya senjata untuk melawan setiap cemoohan ataupun menerima rasa simpati orang lain karena aku tidak menginginkannya. Aku terlalu berkepala batu untuk menerima simpati dari orang lain. Aku merasa bahwa aku bisa kuat jika aku mampu bertahan dan menyelesaikan masalahku dengan caraku sendiri. Cara itu adalah perceraian antara ayah dan ibu. Hanya itu yang menurutku mampu menyelesaikan masalah, karena dengan itu ibu bisa terbebas dari belenggu ayah dan ayah tidak akan menambah masalah baru dalam keluarga ini karena ayah bukanlah siapa-siapa lagi. Tidak akan ada lagi ayah yang pulang larut malam dan mabuk-mabukan, tidak akan ada lagi ibu yang dibentak-bentak oleh ayah, dan tidak akan ada lagi aku yang tertekan melihat kenyataan ini. Selalu hal inilah yang terpatri dalam otakku. Memang untuk ukuran anak empat belas tahun seperti aku, tidak pernah terpikir cara lain. Hanya cara itulah yang aku tahu. Aku mengetahuinya bukan dari siapa-siapa, melainkan hanya dari sebuah televisi. Ya, benda persegi empat yang selalu menemaniku tatkala aku kesepian. Dari televisi lah aku mengetahui dunia yang terkadang hal-hal yang belum selayaknya aku ketahui, telah aku ketahui melalui televisi. Aku tahu kata cerai dari sebuah sinema elektronik dan infotainment yang muncul hampir setiap hari di televisi. Maka, aku pun menentukan bahwa perceraian ayah dan ibu adalah satu-satunya solusi bagi keluargaku karena aku tidak setuju dengan ibu yang memilih sabar sebagai jalan keluar.
Di kelas aku menjadi sosok yang antipati dan sinis. Tidak banyak teman yang bertahan jika berhubungan denganku. Aku tidak tahu kenapa, yang aku tahu hanya aku sulit untuk mempercayai siapa pun. Aku merasa semua manusia di dunia ini sama, hanya memikirkan diri sendiri dan tidak akan pernah bisa mengerti aku. Aku keras dengan pendirianku, sehingga aku pun sendiri. Aku selalu merasa tidak membutuhkan bantuan siapapun karena aku bisa sendiri dan terbiasa sendiri. Di tengah kesendirian yang kunikmati ini, sampai-sampai aku tidak menyadari bahwa ada sosok guru yang begitu perhatian kepadaku. Mungkin sudah banyak sekali perhatian dan kebaikannya kepadaku, namun aku baru menyadarinya ketika aku benar-benar butuh seseorang yang mau mendengarkan segala keluh kesahku dan membimbingku agar tak salah langkah. Sosok tersebut adalah Ibu Santi, guru Sejarah yang juga wali kelasku. Aku menemuinya saat jam istirahat pertama, kira-kira pukul 9.30 pagi. Saat itu pikiranku sedang galau karena sebelum berangkat sekolah aku melihat ayah melayangkan sebuah tamparan tepat di pipi kanan ibuku. Saat itu ayah baru saja pulang dengan keadaan mabuk dan kesal karena kalah berjudi. Ia melampiaskan kekesalannya pada keluarganya. Ayah berteriak minta uang kepada ibu, namun ibu yang hanya seorang pegawai biasa tidak memiliki uang yang banyak. Hampir sebagian gajinya ia tabung dengan alasan untuk biaya sekolahku dan sisanya untuk makan sehari-hari. Mengenai tabungan ini, ayah tidak tahu apa-apa. Pagi itu, dalam tas ibu hanya ada uang seratus ribu rupiah yang sebenarnya adalah jatah untuk beberapa hari ke depan. Dengan serta merta ayah merampas tas ibu dari tangannya dan merogoh dompet yang ada di dalamnya dan dengan cepat kilat uang itu berpindah tangan. Namun entah kenapa, ibu tidak pasrah seperti biasanya, ia melawan dan berusaha untuk menghalangi ayah mengambil uang tersebut. Maka, terjadilah tragedi pagi itu, pipi ibu spontan menjadi merah lebab karena ditampar ayah. Aku menyaksikannya melalui celah kecil pintu kamarku. Kejadian itu tepat terjadi di ruang tengah yang berdepanan dengan kamarku. Rasa-rasanya aku ingin keluar dan memukul ayah sepuasnya, namun rasa takutku melebihi keberanianku untuk keluar dari kamar saat itu juga. Aku merasa saat itu ayah seperti orang yang kerasukan, ia seperti binatang buas yang tak terkendali. Aku melihat ibu hanya bisa menagis sambil terduduk lemas. Setelah ayah memperoleh uang yang ia inginkan, ia tidak puas begitu saja, ia masih menjarah ibu dengan mengambil sebuah cincin pernikahan yang melingkar di jari manis tangan kanan ibu. Lagi-lagi ibu melawan
”jangan Pak, ini satu-satunya cincin pernikahan kita”, teriak ibu.
Namun teriakan dan perlawanan ibu tak berarti apa-apa. Ayah hanya tertawa saat cincin itu berpindah tangan. Aku yang menyaksikannya, turut meneteskan air mata kekesalan dan kekecewaan mendalam.
Setelah ayah puas dengan jarahannya, ia langsung pergi keluar rumah begitu saja. Kulihat ibu masih menangis dan akupun menghampirinya. Saat ibu melihatku melangkah keluar dari pintu kamar, ia buru-buru menghapus air matanya dan mengakhiri tangisannya. Ia bertingkah seolah-olah tidak terjadi apa-apa, ia bangkit dan menanyakan hal yang sama setiap harinya di waktu pagi kepadaku,
”Rin, sudah makan belum? ibu tadi goreng telur, sana gih sarapan dulu sebelum berangkat sekolah, ibu tadi udah sarapan..Ibu berangkat kerja dulu ya, takut kesiangan..Pergi dulu ya Rin..Assalamu’alaikum”
Ibu memang selalu seperti itu, ia tidak pernah membagi kepedihannya kepadaku atau bahkan menenangkanku, padahal aku mengetahui semuanya. Ibu terkesan tidak peduli akan perasaanku. Itulah yang aku ceritakan kepada Ibu Santi wali kelasku itu. Ternyata ia telah lama bertanya-tanya kenapa aku bertingkah berbeda dengan teman-temanku yang lain. Pertanyaan itu terjawab sudah, aku membeberkan semua rahasiaku kepadanya. Hari itu, aku seperti memperoleh sosok orang tua yang aku dambakan. Ibu Santi berhasil menenangkanku dan membuat hatiku kembali tenang. Ia juga mengatakan bahwa ia bersedia mendengarkan dan menjadi tempat curhatku, bahkan ia juga menawarkanku untuk tinggal bersamanya, namun aku belum terpikirkan untuk tinggal dengan orang lain. Aku butuh waktu untuk berpikir apa yang akan aku lakukan kedepan.
Percakapan yang berlangsung lama hingga istirahat kedua usai itu membuatku meninggalkan beberapa mata pelajaran yang seharusnya kuikuti. Aku kembali ke kelas dengan meninggalkan kegalauan yang aku bawa di pagi hari. Tak terasa bel berdering tiga kali yang menandakan waktunya pulang sekolah. Seperti biasa, aku pulang sendirian, dan sampai di rumah aku tetap sendirian. Aku segera menemui teman persegi empatku dan kudapati sebuah tayangan berita kriminal. Aku menontonnya, mulai dari berita perampokan, pencurian, kecelakaan hingga bunuh diri aku saksikan. Hingga malam hari kehidupanku dan ibuku berjalan normal tanpa ayah. Aku pun bisa tidur dengan lelap.
Sebelum matahari beranjak dari persembunyiannya, aku terbangun oleh teriakan yang sudah tidak asing lagi di telingaku. Suara ibu dan ayah terdengar begitu jelas hingga kamarku. Kembali lagi aku hanya bisa menyaksikan dari celah kecil pintu kamarku karena kejadian itu terjadi di tempat yang sama dengan sebelumnya. Dengan seketika kekecewaanku tumbuh lagi, kejadian kemarin terulang lagi, aku menangis lagi. Saat itu, aku merasakan kembali kekecewaan yang sangat mendalam dan kebosanan akan kehidupan kelam yang tak pernah berkesudahan. Dalam pikiranku aku hanya teringat sebuah tayangan kriminal yang pernah aku tonton, salah satu beritanya adalah seorang remaja yang tewas bunuh diri. Setelah ayah pergi dengan hasil jarahannya yang kali ini adalah akte rumah yang kami tinggali, aku keluar kamar dan aku lihat tatapan ibu kosong dengan matanya yang terus meneteskan air mata. Tapi aku tak peduli, aku berlari ke kamar setelah mengambil sebuah pisau yang tergeletak di atas meja. Ya..aku ingin mengakhiri penderitaanku, nekad aku meletakkan pisau itu di atas pergelangan tanganku, dengan perasaan takut aku mengiris nadiku, tapi ternyata Tuhan berkehendak lain, pisau itu ternyata tidak setajam yang aku bayangkan. Sebelum nadiku putus teriris pisau, ibu datang menghampiriku dan betapa terkejutnya ia melihatku menahan sakit dengan cucuran darah dari pergelangan tangan yang tak mau berhenti mengalir. Rasanya aku sudah tidak kuat menahan sakit dan seperti ingin pingsan saja. Sayup-sayup terdengar di telingaku ”Rin..kenapa kamu melakukan ini nak…baiklah ibu janji akan meninggalkan ayah…”