Kata orang Jakarta itu tempat yang menjanjikan karena di jakarta katanya impian dan harapan kita bisa terwujud asal mau kerja keras dan tahan banting. Nah, sisi inilah yang pengen gw bahas. Mungkin gak akan detail coz gw juga belum makan asam garam hidup di ibukota Negara Indonesia ini.

Pertama, mengenai lapangan kerja.. Enggak dipungkiri kalo di Jakarta tuh banyak sekali lapangan kerja yang tersedia, makanya banyak orang berbondong-bondong migrasi dari Kampung Halaman demi mengejar karir. Contohnya aja untuk karir di bidang jurnalistik, kesempatan untuk mencari informasi terbuka lebar dan aksesnya pun tidak dipersulit, seperti info2 mengenai Kenegaraan, Entertainment dll. Bahkan seorang Karyawan BI yang merupakan pendatang dari Yogyakarta berkomentar “Di Jogja nyari kerjaan dengan gaji 500ribu aja sulitnya minta ampun, beda dengan di Jakarta lapangan pekerjaan terbuka lebar” nah, gak heran kan kenapa Jakarta padat oleh penduduk yang mayoritas pendatang, karena emang Jakarta adalah tempat yang menjanjikan untuk perbaikan ekonomi dan mengejar mimpi.

Yang Kedua, tentang Gaya Hidup.. Menurut informasi yang gw dapet gaji minimum seorang karyawan baru di perusahaan swasta yaitu 1,5juta buat lulusan S1 dan 1jt buat lulusan D3 dan gaji tersebut akan naik secara berkala per3 bulan namun tetap melihat prestasi yang dicapai si karyawan. Itu yg minimun dan gak menutup kemungkinan gaji yang lebih tinggi lagi hingga mencapai belasan, puluhan bahkan ratusan juta perbulannya, tergantung posisi, tempat bekerja dan tugasnya. Dari pemasukan yang bisa dibilang lumayan atau cukup atau bahkan sangat besar itu, timbullah suatu kebutuhan akan gaya hidup. Semakin tingginya karir maka pergaulan pun semakin luas hingga kalangan atas. Baik itu kebutuhan akan fashion, prestise, fasilitas dll. Contohnya salah seorang karyawan dengan gaji 5jt perbulan bercerita bahwa dia dan teman2nya tiap hari selalu makan siang atau sekedar ngopi di Plaza Senayan. Kalau kita bayangkan Plaza Senayan yg merupakan mall elite untuk kalangan kelas atas itu pasti menawarkan barang atau jasa dengan harga diatas rata2. Maka, gak sedikit uang yang harus dikeluarkan hanya untuk sebuah pergaulan modern.

Yang ketiga, tentang kondisi Lingkungan Kerja.. Berdasarkan pengamatan, karyawan2 di perusahaan swasta seperti gak ada waktu buat melakukan hal lain selain kerja pada jam-jam kerja. Lagi2 kerja keras, karena mereka bekerja dengan sistem target. Apalagi yang bekerja di Perusahaan Asing seperti Perusahaan Jepang misalnya, karyawannya benar2 bekerja diperas otak dan energinya untuk perusahaan tapi memang tidak sedikit pendapatan yang diterima. Selain itu, berlakunya persyaratan “tidak boleh mengenakan Jilbab bagi kaum perempuan” masih ditekankan pada beberapa perusahaan contohnya salon umum, perusahaan Jepang dan masih banyak lagi yang belum saya ketahui.

Yang kerakhir yaitu mengenai pergaulan.. Mungkin sebagian warga yang hidup di Kota Metropolis ini tidak asing lagi dengan pergaulan kehidupan malam. Dunia Gemerlap atau “DuGem” bukan lagi hal yang tabu, tapi sudah menjadi kebutuhan atau sekedar tuntutan pergaulan. Berdasarkan cerita seorang narasumber mengatakan bahwa pertama kali ia manginjakkan kaki di sebuah perusahaan swasta dan bertugas sebagai karyawan disana, ia didatangi oleh beberapa karyawan untuk berkenalan. Tak lama ia pun diajak untuk merasakan yang namanya DuGem. Sebagai seorang baru yang belum pernah dan penasaran, iapun menyanggupi. Namun, karena panggilan jiwanya tidak mengarah ke kehidupan seperti itu, baru satu kali mencoba, ia akhirnya berani mengatakan Tidak untuk ajakan selanjutnya. Namun, ia malah dikucilkan dari pergaulan dan terpaksa harus bekerja dan bersosialisasi dengan nihil orang. Ia lalui kajadian ini hingga berbulan-bulan. Dan berkat Kekuatan Iman dan Prinsip yang kuat, orang2 disekitarnya pun akhirnya sadar dan mulai dapat menerima karakternya. Dari sinilah justru ia bisa menunjukkan pada rekan2nya bahwa ia adalah orang yang tidak pantas untuk dikucilkan dan pada akhirnya ia justru menjadi sesorang yang dihormati dan disegani di kantornya. Ini bukan cerita fiktif, tapi benar2 terjadi. Pelajaran yang bisa diambil dari pengalaman ini yaitu mempertahankan prinsip iman dan idealisme memang sulit bahkan banyak onak dan duri yang menghadang karena kita mungkin kadang mengalami keadaan2 yang menyakitkan dan tidak ingin kita rasakan, namun dangan tekad, optimisme dan kepercayaan diri yang kuat, suatu hari kita pun bisa merasakan hikmah dibalik keadaan yang tidak kita inginkan tersebut.