Dingin malam menghembus hingga merasuki tulang-tulang jemariku. Langit hitam berselimut kabut gelap. Sepi sunyi senyap aku lalui. Betapa kelamnya jati diri. Mereka-reka harapan hati yang berlindung di balik kekosongan yang aku sendiri tidak menyadarinya“.

Malam ini tidak seperti biasanya, hujan deras diiringi angin malam datang beriringan. Setetes demi setetes air turun dari langit. Seolah-olah langit sedang bersedih atas kehampaanku, kekosonganku, kelemahanku, kegelisahanku dan kesendirianku. Tak banyak yang mampu aku lakukan. Derasnya hujan menghalangiku untuk keluar, begitu pula dinginnya malam membatasi gerakku. Satu hal yang pasti mampu aku kerjakan di sebuah kamar kecil ini adalah melamun. Entah aku tidak tahu lagi atau memang sang waktu mengomandoku untuk melamun di sebuah malam. Rasanya aku tidak perlu berpikir panjang lagi, sebab kenapa aku harus repot untuk memikirkan hal apa yang pantas aku kerjakan jika melamun adalah hal yang paling mudah untuk dikerjakan. Toh, tidak ada yang melarangku atau memperingatkanku untuk tidak melamun. Orang tuaku tinggal jauh di kampung halaman dan teman-teman kostku paling-paling sudah asyik bersembunyi di balik selimut tebal mereka dan hanya peduli pada diri sendiri. Ahhhh…aku tidak peduli, biarkan saja mereka.

Saat ini pikiranku sedang melayang-layang. Aku merasa sedang berada di suatu tempat yang asing bagiku. Aku tidak tahu dimana ini, yang aku tahu hanya banyak manusia disini. Atau mungkin lebih tepat disebut sebagai “dunia impian“. Aku berdiri di antara puluhan, ratusan bahkan ribuan insan yang sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Mungkin mereka sedang berusaha mencapai impiannya. Sebab aku melihat ada yang sibuk menulis naskah sebuah novel barangkali, lalu ada yang membedah tubuh seekor kelinci dan sepertinya dia adalah seorang dokter hewan atau mahasiswa kedokteran hewan. Mataku melihat sekeliling, ada pula yang sibuk menabuh drum berkali-kali dengan kencangnya, ada yang sibuk mengutak-atik sebuah Personal Computer, hhemmm..hatiku sedikit tergelitik melihatnya sebab aku lihat wajahnya yang sudah seperi monitor komputerku di rumah. Guyonanku dalam hati atas rupa serius dan berkacamata orang tadi. Aku mendekati orang tersebut.

“Bagaimana caranya kamu bisa sampai disini? Trus kenapa kamu bawa Komputer segala?“, sebuah pertanyaan yang mengawali keingintahuanku akan keanehan yang aku lihat.

“Aku sedang melamun, lalu tiba-tiba aku berada disini..awalnya aku tidak membawa apapun, tapi setelah aku terus bertanya, membaca dan telah menemukan potensiku, lalu di kesempatan yang kedua, aku ke sini dengan perangkat komputer yang lengkap dan dapat aku gunakan…aku menyukainya dan itu cukup bagiku“, penjelasan yang lumayan panjang dan membuatku semakin penasaran dengan apa yang terjadi di tempat ini.

Di sisi lain aku melihat ada yang sibuk mempelajari alat navigasi pesawat udara dan juga ada seorang pria dengan kostum selayaknya pemain sepak bola yang dari tadi tidak letih-letih meng-over bola dari kaki kanan ke kaki kiri secara bergantian. Banyak sekali manusia, ada yang sibuk ini dan itu. Semuanya sibuk. Tapi, sepertinya aneh karena aku melihat ada seorang yang menurutku tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan terlihat seperti orang yang sedang kebingungan. Menurut pengamatanku sepertinya ia sedang tersesat. Berdiri di sebuah perempatan jalan dan di ujung salah satu jalan ia hanya terdiam sambil menggerak-gerakkan lehernya ke arah jalan yang lain, kanan, depan, kiri dan sebaliknya. Jiwa keingintahuanku membawa langkahku ke arah orang tersebut. Langkah demi langkah terus aku tapaki. Mataku hanya tertuju ke orang itu dan terus-menerus aku lewati satu demi satu manusia hanya untuk sampau ke jalan tempat orang yang kebingungan itu. Aku tidak tahu harus menyebutnya seperti apa. Atau mungkin julukan “stranger“ tepat untuknya.

“Maaf, saya perhatikan kamu sepertinya kebingungan…sebab dari tadi kamu Cuma celingak-celinguk di perempatan jalan ini..memangnya tujuan kamu kemana? Mungkin saya bisa bantu…“, tanyaku penuh penasaran.

“Tahu apa kamu, memang kamu kenal daerah ini! Saya sudah lama disini, tapi saya belum tahu jalan mana yang benar, sudahlah kamu urus saja urusanmu sendiri“, Jawabnya dengan nada yang agak meninggi.

Namun biarpun begitu aku tidak kehabisan energi dan semangat untuk menemukan jawaban dari si “stranger“ itu.

“Ok..saya memang orang baru disini, saya juga tidak tahu tempat apa ini.. tapi apa saya salah jika mencoba membantu orang lain, lagipula kalau kamu tidak suka jika saya bertanya, ya sudah..jangan paksa saya mengurungkan niat untuk membantu“, balasku.

“Baiklah, jika kamu benar-benar ingin membantu saya…jalan mana yang yang harus saya tempuh, kanan…kiri…atau depan…saya ingin ke Bulan..?“, cetusnya.

“Ke Bulaan??? Apa maksudnya, memangnya ada jalan ke Bulan lewat sini? Kamu pasti bercanda, ya kan!!”, tanyaku semakin penasaran.

”Saya tidak bercanda, saya ingin menjadi astronot..saya ingin ke Bulan, tapi saya tidak tahu jalannya..saya juga tidak membawa bekal apapun.”

”Sepertinya saya tersesat, tapi jika aku berbalik arah maka saya kembali ke rumah, padahal tekadku sudah bulat untuk menemukan jalanku untuk ke Bulan”, jawabnya.

Aku tertegun sejenak. Aku berpikir dalam hati, orang ini seperti cerminan dari diriku saat ini. Terasa seperti ada jarum yang menusuk tulang hatiku, aku merasa tersindir. Hal ini seolah-olah menyadarkanku dan membangunkanku dari kekosongan yang selama ini hinggap disanubariku. Aku terpikir tentang jati diri seperti yang selama ini aku cari-cari. Yang selama ini belum aku temukan jawabannya dan yang selama ini masih mengambang di alam pikiranku. Seorang yang mulanya aku sebut ”stranger” ini berbicara mengenai sebuah pertanyaan yang menyadarkanku bahwa akulah yang seharusnya bertanya demikian.

”Hallo…apa kamu dengar pertanyaanku tadi?”

”Saya pikir kamu benar-benar berniat untuk menolong, tapi ternyata kamu cuma bisa diam” , tukasnya dengan nada agak kecewa.

”Ehh..maaf, tadi saya sedang memikirkan sesuatu, rasanya saya tidak dapat menjawab pertanyaan kamu dengan pasti, tapi menurut saya lebih baik jika kamu kembali ke rumah untuk mempersiapkan bekal yang cukup dan temukan tujuan yang tepat…mungkin ke Bulan bukan tujuan yang tepat untukmu. Jika bekal dan persiapan sudah matang, iringi dengan semangat yang sama seperti saat ini untuk mengarungi perjalananmu yang sebenarnya…mudah-mudahan kamu tidak kebingungan lagi”, ucapan yang terlontar begitu saja dari mulutku. Seolah-olah ada malaikat yang membisikkan ke telingaku. Jawaban yang tidak hanya untuk orang itu tapi juga untukku. Jawaban yang telah membangkitkan semangatku untuk memulai pencarianku akan jati diri hidupku.
Tak terasa hujan telah reda.

”Sev, kita nonton film bareng yuk!” Teriakan Anggun dari balik pintu kamarku membawaku kembali dari ”dunia impian” ke dunia yang nyata. Saat ini aku benar-benar sadar dan tidak melamun lagi. Aku berterima kasih atas lamunanku ini. Akupun bertekad untuk memulai lembaran hidupku untuk mencari tahu akan kemanakan langkahku kedepan.